PEKANBARU – Warga di kawasan Jalan Pastoran, Rumbai Barat (Palas), Kota Pekanbaru, kian geram. Setelah keluhan demi keluhan disampaikan, kondisi jalan yang rusak parah justru tak kunjung mendapat penanganan serius. Pemerintah dinilai bukan sekadar lamban, tetapi terkesan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat yang setiap hari harus berjibaku dengan debu, lumpur, dan ancaman kecelakaan, Minggu (29/03/26).
Kerusakan Jalan Pastoran kini bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, melainkan telah menjelma menjadi simbol pembiaran. Lubang menganga, badan jalan hancur, serta debu pekat di musim panas dan kubangan lumpur saat hujan, menjadi “menu harian” warga yang seolah dipaksa menerima keadaan tanpa kepastian solusi.
Ironisnya, aktivitas truk-truk industri bertonase besar masih terus berlangsung tanpa kendali. Kendaraan-kendaraan tersebut diduga milik sejumlah pabrik dan gudang di kawasan Rumbai Barat yang setiap hari melintas, memperparah kerusakan jalan yang sejak awal tidak dirancang untuk menahan beban berat.
“Ini bukan lagi soal rusak, tapi sudah seperti dibiarkan hancur. Pemerintah ke mana? Kami ini warga, bukan korban yang harus terus menanggung akibatnya,” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Sorotan tajam pun mengarah kepada Pemerintah Kota Pekanbaru yang dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan terhadap masyarakat. Tidak adanya pembatasan tonase, lemahnya pengawasan, hingga nihilnya tindakan terhadap pelaku usaha yang diduga menjadi penyebab utama kerusakan, memunculkan kesan kuat adanya pembiaran sistematis.
Lebih jauh, warga mempertanyakan keberanian aparat penegak hukum dalam menindak pelanggaran yang terjadi terang-terangan di lapangan. Jika aturan tonase ada, mengapa tidak ditegakkan? Jika kerusakan nyata terlihat, mengapa tidak ada langkah tegas?
“Kalau ini terus dibiarkan, artinya negara kalah dengan kepentingan industri. Jalan rusak, masyarakat sengsara, tapi aktivitas mereka tetap jalan tanpa hambatan,” tegas tokoh masyarakat setempat.
Kondisi ini juga memperlihatkan ketimpangan nyata: kepentingan ekonomi seolah lebih diutamakan dibanding keselamatan dan kesehatan warga. Debu yang setiap hari terhirup, risiko kecelakaan yang mengintai, hingga kerusakan kendaraan pribadi, menjadi beban yang harus ditanggung masyarakat tanpa kompensasi.
Warga kini tidak hanya menuntut perbaikan jalan, tetapi juga transparansi dan ketegasan. Mereka mendesak:
- Audit menyeluruh terhadap aktivitas industri di kawasan Rumbai Barat.
- Penegakan aturan tonase tanpa tebang pilih.
- Keterlibatan aktif aparat penegak hukum dalam menindak pelanggaran.
- Tanggung jawab konkret dari perusahaan yang diduga merusak infrastruktur.
Jika kondisi ini terus berlanjut, warga menilai bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin terkikis. Jalan yang rusak hanyalah gejala, sementara akar persoalannya adalah lemahnya keberpihakan terhadap hak dasar masyarakat: hidup di lingkungan yang layak dan aman.
“Jangan tunggu viral, jangan tunggu korban jiwa. Kami butuh tindakan, bukan janji,” tutup warga.
Situasi di Jalan Pastoran hari ini menjadi ujian nyata: apakah pemerintah hadir untuk rakyatnya, atau justru abai di tengah kerusakan yang semakin nyata.*jhn
OPINI: Demokrasi Bukan Panggung Pujian, Pemerintah Harus Siap Dikritik dan Dievaluasi
SPK Sementara PT PKU Usai Dicabut Dirut APN, ke Mana Hasil Penjualan TBS Selama 2 Bulan?
Kasus Dana Earmark Riau Rp 404 Miliar: Sejauh Mana Penanganan Jampidsus Kejagung RI ?
Di Tengah Maraknya Hoaks, IMO-Indonesia Jadikan Pemberitaan Benar dan Berimbang sebagai Komitmen Pers
Aksi Demonstrasi Mahasiswa di Kantor Gubernur Riau Memanas, Ini 8 Tuntunannya
Ketum PM2N Desak Kapolda Riau Irjen Arman Pastikan Penanganan Kasus SPPD Fiktif Rp 195,9 Miliar
Polda Riau Bergerak Serentak di Era Irjen Arman, 29 Kasus Narkotika Terungkap dalam 15 Hari
AKP Yohn Mabel Resmi Jabat Kasat Reskrim Polres Inhu, Siap Perkuat Penegakan Hukum
Albert Simanjuntak, SH Bantah Tuduhan terhadap Kliennya Soal Polemik Lahan Meranti Pandak Minta Berpegang pada Fakta Hukum
Persiapan Pelantikan DPD SP Perisai Pancasila Kota Pekanbaru Telah Selesai Dilaksanakan
Ketua Umum FPKB Sindir Keras Demo Sepi Pendukung: “Lebih Baik Bikin Kegiatan Bermanfaat dari pada Hanya cari sensasi
Ida Yulita Diduga Rugikan Negara Rp704,9 Juta, GEMMPAR Siap Gelar Aksi di Depan Kajari
UMKM FPKB adakan lomba kuliner khas Melayu dengan hadiah puluhan juta
Kursi DPRD Bukan Tameng! Dugaan Wanprestasi Rp 200 Juta Oknum Hanura Kini Disorot BK
Kapolda Riau Irjen Pol Arman Achdiat Tegaskan Larangan Vape di Lingkungan Kepolisian, Personel hingga Pengunjung Wajib Patuh
Polemik Lahan Meranti Pandak Masih Bergulir, Adu Klaim Harus Dijawab dengan Bukti Hukum
OPINI: Demokrasi Bukan Panggung Pujian, Pemerintah Harus Siap Dikritik dan Dievaluasi



